Uswatun Hasanah Artinya? Jelas Rasulullah Diberi Gelar Luar Biasa Itu

Uswatun Hasanah Artinya? Jelas Rasulullah Diberi Gelar Luar Biasa Itu
Uswatun Hasanah Artinya? Jelas Rasulullah Diberi Gelar Luar Biasa Itu

uswatun hasanah ialah via 31.ayobai.org
Sebagian orang mungkin penasaran, uswatun hasanah ialah?
Mengapa Rasulullah diberikan gelar tersebut? Agar kamu mengetahui & wawasanmu bertambah, mari simak penjelasannya pada artikel ini.
Seringkali kita mendengar orang berkata “uswatun khasanah”.  Uswatun hasanah artinya teladan yang baik.

US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US
Panutan & teladan umat Islam merupakan Nabi Muhammad SAW.
Seorang pria pilihan Allah SWT yang diutus buat mengungkapkan ajaran yg benar yaitu Agama Islam.
Oleh karena itu, kita menjadi muslim wajibmeniru dan mencontoh kepribadian beliau.
Berikut penerangan lengkap mengapa Rasulullah diberi gelar uswatun hasanah.
Baca Juga :Kisah Para Nabi dan Rasul Beserta MukjizatnyaDitanya Siapa Wanita Terbaik pada Dunia? Jawaban Rasulullah Bikin Hati BergetarAlasan Rasulullah Membangun Masjid Nabawi di Madinah Bukan pada Kota LainRasulullah Sangat Marah Kepada Orangtua yg Suka Melakukan 4 Hal ini Kepada AnaknyaPeristiwa Menakjubkan Menjelang Kelahiran Rasulullah, 12 Kejadian Ini Menjadi Bukti Rasulullah Begitu MuliaRasulullah SAW menjadi Uswatun Hasanah
Uswatun hasanah merupakan keliru satu sebutan berdasarkan Allah kepada Muhammad Rasulullah.
Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Al Quran surat Al Ahzab [33] ayat 21 :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرً
“Sesungguhnya sudah terdapat pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah & (kedatangan) hari kiamat & beliau poly menyebut Allah.”
Juga dalam surat Al Qalam [68] ayat 4 :
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkausahih-benar berbudi pekerti yg agung”
Demikian juga, petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sebaik-baik petunjuk.
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Sesungguhnya sebaik-baik liputan merupakan kitabAllâh, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk kasus adalah masalah-masalah baru (dalam agama), dan semua bid’ah adalah kesesatan.” [ HR.Muslim no. 864 ].
Meskipun surat Al Ahzab [33] ayat 21 turun waktu pada pada keadaan perang Ahzab, akan namun hukumnya umum mencakup keadaan kapan saja dan pada hal apa saja.
gambaran uswatun hasanah adalah via alamuslim.com
Atas dasar itu, Imam Ibnu Katsîr rahimahullah mengatakan mengenai ayat ini :
“Ayat yg mulia ini adalah pondasi/dalil yg agung pada meneladani Rasulullah dalam semua perkataan, perbuatan, & keadaan dia. Orang-orang diperintahkan meneladani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Ahzab, dalam kesabaran, usaha bersabar, istiqomah, perjuangan, dan penantian beliau terhadap pertolongan dari Rabbnya. Semoga sholawat & salam selalu dilimpahkan pada dia sampai hari Pembalasan”. [ Tafsir Ibnu Katsir, 6/391, penerbit: Daru Thayyibah ]
Demikian pula Syaikh Abdur Rahman bin Nâshir as Sa’pada rahimahullah mengungkapkan kaedah meneladani Rasulullah ini dengan menyatakan :
“Para Ulama ushul (fiqih) berdalil (menggunakan) menggunakan ayat ini untuk berhujjah menggunakan perbuatan-perbuatan Rasulullah, dan bahwa (hukum asal) umat dia merupakan meneladani (dia) dalam seluruh hukum, kecuali perkara perkara yang ditunjukkan sang dalil syari’at sebagai kekhususan bagi dia.
Kemudian uswah (teladan) itu ada 2: uswah hasanah (teladan yg baik) dan uswah sayyi`ah (teladan yang tidak baik).
Uswah hasanah (teladan yg baik) ada dalam diri Rasulullah. Karena orang yang meneladani beliau merupakan orang yang menapaki jalan yang akan menghantarkan menuju kemuliaan berdasarkan Allah Azza wa Jalla , & itu merupakan shirathal mustaqim (jalan yang lurus).
Adapun meneladani (mengikuti orang) selain beliau, bila menyelisihi dia, maka dia merupakan uswah sayyi`ah (teladan yang tidak baik).
Sebagaimana perkataan orang-orang kafir waktu diajak oleh para rasul buat meneladani mereka, (namun orang-orang kafir itu mengatakan) :
pada surat Az Zukhruf [43] ayat 22 :
إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ
“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, & sesungguhnya kami orang-orang yang menerima petunjuk menggunakan (mengikuti) jejak mereka.”
Orang yang mengikuti uswah hasanah (Rasulullah) & mendapatkan taufik ini hanyalah orang yg mengharap (rahmat) Allah & (kedatangan) hari Kiamat
. Lantaran keimanan yang terdapat padanya, demikian jua rasa takut pada Allah, dan mengharapkan pahalaNya, serta takut terhadap siksaNya, (semua itu) mendorongnya buat meneladani Rasulullah”.  [ Tafsir Karimir Rahman, surat al Ahzab /33 : 21 ].Perilaku Rasulullah adalah Uswah Hasanah
Kaedah Rasulullah adalah uswah hasanah, kaedah yg agung yg dipratekkan sang tokoh tokoh umat ini, termasuk sang Rasulullah sendiri.
Marilah kita perhatikan hadits berikut adalah, bagaimana dia menegur keliru seseorang Sahabat dia menggunakan kaedah agung ini :
عَنْ عُرْوَةَ قَالَ:” دَخَلَتِ امْرَأَةُ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ – أَحْسِبُ اسْمَهَا خَوْلَةَ بِنْتَ حَكِيمٍ – عَلَى عَائِشَةَ وَهِىَ بَاذَّةُ الْهَيْئَةِ فَسَأَلَتْهَا:”مَا شَأْنُكِ ؟”. فَقَالَتْ :”زَوْجِى يَقُومُ اللَّيْلَ وَيَصُومُ النَّهَارَ”. فَدَخَلَ النَّبِىُّ – n – فَذَكَرَتْ عَائِشَةُ ذَلِكَ لَهُ فَلَقِىَ رَسُولُ اللَّهِ – n – عُثْمَانَ فَقَالَ :”يَا عُثْمَانُ إِنَّ الرَّهْبَانِيَّةَ لَمْ تُكْتَبْ عَلَيْنَا أَفَمَا لَكَ فِىَّ أُسْوَةٌ فَوَاللَّهِ إِنِّى أَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَحْفَظُكُمْ لِحُدُودِهِ “.
Dari ‘Urwah, dia mengatakan, “Istri ‘Utsman bin Mazh’un, menurutku namanya adalah Khaulah binti Hakim- menemui ‘Aisyah dengan sandang seadanya.
Aisyah bertanya kepadanya, “Kenapa engkauini?” Dia menjawab, “Suamiku selalu (sibuk) sholat malam dan berpuasa pada siang hari”.
Kemudian Rasulullah masuk, ‘Aisyah pun mengungkapkan hal itu pada beliau.
Kemudian Rasulullah menemui ‘Utsman seraya menyampaikan, “‘Utsman, sesungguhnya kependetaan nir diwajibkan atas kita.
Tidakkah pada diriku terdapat uswah (teladan) bagimu?
Demi Allah, gw merupakan orang yg paling takut kepada Allah dan orang yang paling menjaga hukum-hukumNya di antara kamu’.” [ HR. Ahmad dan dishahîhkan sang al-Albâni pada Silsilah ash-Shahîhah no.1782 ]
ilustrasi uswatun hasanah merupakan via youtube.com
Allahu Akbar, alangkah lembutnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur Sahabat ini, “Utsman, sesungguhnya kependetaan tidak diwajibkan atas kita.
Tidakkah pada diriku masih ada uswah (teladan) bagimu?”
Wahai orang-orang yg menelantarkan keluarganya menggunakan alasan dakwah & memikirkan umat, tidakkah dalam diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat uswah (teladan) bagi kalian?”
Wahai, orang-orang yg menciptakan-buat ibadah sendiri, tanpa tuntunan Rasulullah, dengan hanya mengikuti seorang ustadz, kyai dan figur eksklusif saja, tidakkah pada diri Rasulullah masih ada uswah (teladan) bagi kalian?”
Marilah kita perhatikan insiden berikut adalah :
Sahabat ‘Ubaid bin Khaalid al-Muharibi Radhiyallahu anhu mengungkapkan :
إِنِّي لَبِسُوقِ ذِي الْمَجَازِ عَلَيَّ بُرْدَةٌ لِي مَلْحَاءُ أَسْحَبُهَا قَالَ فَطَعَنَنِي رَجُلٌ بِمِخْصَرَةٍ فَقَالَ ارْفَعْ إِزَارَكَ فَإِنَّهُ أَبْقَى وَأَنْقَى( أَمَا لَكَ فِيَّ أُسْوَةٌ ) فَنَظَرْتُ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرْتُ فَإِذَا إِزَارُهُ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ
“Aku berada di pasar Dzil Majaz mengenakan burdah (semacam selimut) bergaris-garis hitam & putih milikku menggunakan menyeretnya.

Article Categories:
Ide Bisnis Kreatif

Comments are closed.